Kamis, 27 Mei 2010

ASUPAN MAKANAN PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Malnutrisi merupakan masalah pada pasien rawat inap di Rumah Sakit sedang berkembang selama lima belas tahun terakhir. Prevalensi kurang gizi di Rumah Sakit menurut Mosner dan Bader (2008) berkisar antara 30%-50%. Pengamatan pada 351 Pasien yang dirawat di RS umum Australia ditemukan 45% dengan Hb rendah , 35 % Albumen rendah, serta 24% berat badan berkurang. Hal ini pula terjadi pada pengamatan 13 pasien dirumah sakit pendidikan di Amerika dan Asia, ditemukan 48% kurang asupan Gizi, 37 orang diantaranya dirawat lebih dari 2 minggu, 78% terjadi penurunan lingkar lengan atas, 70% kehilangan berat badandan albumin menurun rata-rata 0,5 gr/dl (WHO, 2009).

Pelayanan makanan di Rumah Sakit merupakan bagian integral seluruh sistem pelayanan di Rumah Sakit yang bertujuan untuk mencapai kesembuhan pasien dalam waktu sesingkat mungkin sehingga pemberian makanan harus memenuhi syarat kebutuhan gizi dan harus dapat dikonsumsi habis oleh pasien. Hasil penelitian Syamsuddin (1995) menemukan bahwa zat gizi yang optimal pada pasien di Rumah Sakit sangat bermanfaat dalam mengurangi jangka waktu perawatan dan mempercepat penyembuhan, mengurangi komplikasi, menurunkan mortalitas, dan memperbaiki status gizi pasien. Peneltian lain dilakukan Galghar Allred (1996) bahwa data tentang malnutrisi menunjukkan 40-50% pasien mengalami malnutrisi atau memiliki risiko malnutrisi, 12% diantaranya merupakan malnutrisi berat, 48% malnutrisi ringan, status gizi akut pasien mengalami peningkatan setelah 2 minggu, dan yang meningkat sampai 69%, dari total pasien dengan malnutrisi berat dan ringan selama dalam perawatan di Rumah Sakit. Berdasarkan data Direktorat Litbang Gizi Masyarakat bahwa dari 171 Rumah Sakit pemerintah terdapat 40% pasien, menyatakan makanan yang disediakan Rumah Sakit tidak memenuhi kecukupan gizi.

Jenis penyakit yang berpengaruh terhadap menurunnya status gizi yang terbanyak kasusnya adalah sakit hati (sirosis hepatitis) sebanyak 16 orang (43%), gagal ginjal sebanyak 11 orang (29%), dan selebihnya 10 orang dengan penyakit kanker. Jenis diet yang diberikan pada kelompok sirosis , gagal ginjal kronik dan kanker adalah sebagian sampel mendapat bentuk makanan lunak sebanyak 31 orang (83%) selebihnya dalam bentuk makanan biasa. Asupan makanan yang mengandung energi dengan median 1240,65 kalori sampai dengan 427,06 sedangkan asupan energi didapat median 44,63 gram sampai dengan 15,78 gram. Asupan energi berdasarkan kebutuhan pasien dan standar diet makanan Rumah Sakit dengan median 62,03% kebutuhan dan median 82,57% standar. Sedangkan persentase asupan protein pasien diperoleh median 85,05% dari kebutuhan dan median 96,0% standar diet Rumah Sakit, dari data ini dapat disimpulkan sebaiknya asupan zat gizi diperhitungkan lebih dahulu agar dapat dicegah asupan yang kurang, bila asupan kurang 75% dari kebutuhan secara terus-menerus maka akan berisiko menderita gizi kurang dan merupakan indikasi pemberian diet dengan standar yang disusun khusus untuk setiap pasein.

Penelitian yang dilaporkan oleh Ratna Hafid Tahun 1997 di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, bahwa status gizi pasien cenderung menurun. Hal ini ditandai dengan penurunan berat badan sebesar 74,72% dari 14 pasien yang diteliti, hal ini disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan gizi yaitu (66,15%) dari jumlah yang seharusnya diperoleh dengan perincian 50,67% dari Rumah Sakit, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Syarifuddin tahun 2009 di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar terhadap 120 pasien rawat inap, terdapat 41,7% kurang asupan makanan, 24,2% tidak suka jenis makanan, 43,3% tidak bervariasi makanan, 49,2% tidak sesuai citarasa makanan. Pada umumnya pasien ditemukan pula bahwa 50% pasien memisahkan makanananya karena alasan cita rasa makanan yang disajikan tidak memuaskan dan 4,60% pasien memisahkan makananya karena tidak hangat, 19,6% menyatakan makanan tidak enak, 16,6% menyatakan makanan tidak menarik bentuknya dan 13,1% menyatakan menu membosankan karena tidak bervariasi (Pusdiknakes,2008).

Berdasarkan data dari rekam medik Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa, pasien rawat inap pada tahun 2007 sebanyak 1.796 pasien, tahun 2008 sebanyak 3.720 pasien, tahun 2009 sebanyak 32.549 pasien dengan total sebanyak 38. 065 pasien dengan bertambahnya jumlah pasien berarti semakin bertambah pula asupan makanan yang disajikan. Karena itu peneliti tertarik meneliti faktor yang berhubungan dengan asupan makanan pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalah dikemukakan sebagai berikut :

1. Apakah jenis makanan berhubungan dengan asupan makanan pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa Tahun 2010 ?

2. Apakah variasi pemberian berhubungan dengan asupan makanan pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa Tahun 2010 ?

3. Apakah cita rasa makanan berhubungan dengan asupan makanan pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa Tahun 2010 ?

C. Tujuan Penelitian

1 .Tujuan Umum

Untuk megetahui Faktor yang berhubungan dengan asupan makanan pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa Tahun 2010.

2.Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui jenis makanan berhubungan dengan asupan makanan.

b. Untuk mengetahui variasi pemberian makanan berhubungan dengan asupan makanan.

c. Untuk mengetahui cita rasa makanan berhubungan dengan asupan makanan.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Institusi

Pada institusi di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa sebagai bahan acuan untuk perencanaan kesehatan di masyarakat pada masa yang akan datang.

2. Manfaat Ilmiah

Terhadap ilmu pengetahuan dapat memberikan informasi bagi peneliti dibidang kesehatan selanjutnya.

3. Manfaat Praktis

Terhadap peneliti sebagai pengalaman berharga yang dapat menambah wawasan serta pengetahuan baru tentang penelitian.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Asupan Makanan

1. Pengertian Asupan Makanan

Asupan makanan adalah semua jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi tubuh setiap hari. Umumnya asupan makanan di pelajari untuk di hubungkan dengan keadaan gizi masyarakat suatu wilayah atau individu. Informasi ini dapat digunakan untuk perencanaan pendidikan gizi khususnya untuk menyusun menu atau intervensi untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM), mulai dari keadaan kesehatan dan gizi serta produktivitasnya. Mengetahui asupan makanan suatu kelompok masyarakat atau individu merupakan salah satu cara untuk menduga keadaan gizi kelompok masyarakat atau individu bersangkutan. (Sumarno, dkk dalam Gizi Indonesia 1997).

Rumah sakit adalah suatu wadah atau tempat pelayanan kesehatan yang berusaha untuk mencapai pemulihan penderita dalam waktu sesingkat mungkin, dan salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah pelayanan gizi yang meliputi penyelenggaraan makanan, pemberian makanan yang memenuhi kebutuhan gizi dan termakan habis oleh setiap pasien merupakan salah satu faktor untuk mempercepat proses pemulihan atau kesembuhan pasien (Somali, dalam Konas Persagi, 1995). Pelayanan Gizi di Rumah Sakit (PGRS) merupakan salah satu komponen dalam pelayanan di Rumah Sakit. Dalam kegiatannya diatur dengan mempertimbangkan kebutuhan klinis, masyarakat, keamanan kebersihan dengan manajemen tepat guna. Sasaran kegiatan PGRS adalah pasien yang berobat jalan dan rawat inap, keluarga, pasien dan petugas Rumah Sakit (Depkes, 1994).

Kegiatan pelayanan gizi di ruang rawat inap merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari upaya perencanaan, penyusunan diet pasien hingga pelaksanaannya, evaluasi diruang perawatan dan pelayanan gizi yang diberikan untuk mencapai pelayanan gizi pasien yang optimal dalam memenuhi kebutuhan zat-zat gizi pasien, baik untuk keperluan -metabolisme tubuh, peningkatan kesehatan ataupun untuk mengoreksi kelainan metabolisme dalam upaya penyembuhan penyakit pasien. Makanan yang memenuhi kebutuhan gizi dan dikonsumsi habis akan mempercepat proses penyembuhan dan memperpendek hari perawatan, berarti dengan biaya perawatan yang sama Rumah Sakit dapat memberikan pelayanan yang lebih baik (Depkes. RI, 1991).

Pelayanan gizi di ruang rawat inap dilaksanakan oleh tim asuhan nutrisi yang terdiri dari dokter, ahli gizi, perawat, dan petugas kesehatan lain yang kegiatannya dipusatkan pada pasien (client centered care). Setiap anggota tim mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing dan dokter sebagai ketua tim (Depkes, RI, 1991).

Kembali kepembahasan awal, kecukupan gizi yang dianjurkan adalah suatu kecukupan rata-rata gizi setiap hari pada hampir semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan aktivitas untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal (Muhilal, 1993).

Pada pasien di Rumah Sakit, kebutuhan akan zat gizi tergantung dari status gizi dan stress metabolik pasien. Bila tidak ada dukungan nutrisi yang adekuat, pasien akan kehilangan berat badan dan terjadi komplikasi yang sering fatal.

2. Metode pengukuran konsumsi untuk individu

a. Metode recall 24 jam.

Metode recall 24 jam adalah untuk memperoleh data mengenai jumlah kalori (energi) pada konsumsi makanan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu.

b. Estimed Food Records

Metode ini disebut juga food records atau diary records, yang digunakan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi. Pada metode ini responden diminta untuk mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan dalam ukuran rumah tangga (URT) atau menimbang dalam ukuran berat (gram) dalam periode tertentu, termasuk cara persiapan dan pengelolaan makanan tersebut.

c. Penimbangan makanan (food weighing)

Pada metode penimbangan makanan, responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama 1 hari. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dari tujuannya, dana penelitian dan tenaga yang tersedia.

d. Metode riwayat makan (Dietary history method)

Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola konsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama, menyatakan bahwa metode ini sendiri terdiri dari tiga komponen yaitu :

1) Komponen pertama adalah wawancara (termasuk recall 24 jam), yang mengumpulkan data tentang apa saja yang dimakan responden selama 24 jam terakhir.

2) Komponen kedua adalah tentang frekuensi penggunaan dari sejumlah bahan makanan dengan memberikan daftar (check list) yang sudah disiapkan untuk mengecek kebenaran dari recall 24 jam tadi.

3) Komponen ketiga adalah pencatatan konsumsi selama 2-3 hari sebagai cek ulang.

e. Metode frekuensi makanan (food frequency)

Metode frekuensi makanan adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu.

3. Pemilihan metode pengukuran konsumsi makanan

Penelitian ini untuk mengetahui asupan makanan memakai food recall 24 jam, prinsip dari metode recall 24 jam, dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu.

Langkah-langkah pelaksanaan recall 24 jam :

a. Petugas atau pewawancara menanyakan kembali dan mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga (URT)

b. Menganalisis bahan makanan kedalam zat gizi dengan menggunakan daftar komposisi bahan makanan (DKBM)

c. Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang dianjurkan (DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia.

d. Metode pengukuran konsumsi makanan untuk individu pada recall 24 jam

Dengan klasifikasi penentuan asupan makanan :

a. Baik : > 100%

b. Sedang : 80% - 90%

c. Kurang : 70% - 80%

d. Defisit : <>

Dalam masyarakat yang tingkat industrinya telah maju, makanan telah mengalami berbagai perlakuan sebelum dikonsumsi oleh manusia. industri telah memproses bahan-bahan makanan sedemikian rupa agar konsumen senang dan mudah untuk menggunakannya. Keterlibatan industri dalam pengolahan berbagai jenis makanan telah diterima atau disambut baik oleh kalangan masyarakat secara luas(Tarwotjo, 1992).

Proses menelan makanan melibatkan dua disiplin ilmu yang sangat berbeda. Pertama, sebelum ditelan merupakan masalah perilaku yang berkaitan dengan keadaan sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan. Kedua, setelah makan ditelan merupakan proses metabolisme yang dimulai dari metabolisme sampai dampak dari asupan makanan, yang bersangkutan terhadap keadaan gizi.

Perubahan tingkat dan asupan masyarakat tidak dapat dilepas dari kenyataan atau perubahan tingkat dan gugus komoditas yang dikonsumsi masyarakat. Di Indonesia pada saat ini juga terjadi pergeseran pada pola konsumsi atau asupan gizi masyarakat.

Dari hasil analisis SUSENAS, diperoleh gambaran bahwa asupan energi berasal dari padi-padian meningkat dari 1238 Kkal/orang/hari pada tahun 1980, menjadi 1247 Kkal/orang/hari pada tahun 1990, akan tetapi sumbangannya terdapat energi total menurun dari 69% tahun 1980 menjadi 65,6% pada tahun 1990.

World Bank melaporkan bahwa daging dan ikan meningkat dari 26 dan 23 Kalori/kapita/hari pada tahun 1988 menjadi 32 dan 29 Kalori/kapita/hari pada tahun 1995 (Ariani dan Enivkfodo, dalam gizi Indonesia, 1997).

Melalui kajian asupan makanan, maka dapat diketahui pasien yang memerlukan dukungan nutrisi. Dukungan nutrisi yang diberikan pada pasien dalam bentuk padat atau cair. Dukungan nutrisi dalam bentuk cair yang dibedakan menjadi nutrisi Eneteral Formula Rumah Sakit. Bentuk makanan ini dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menghasilkan makanan standar Rumah Sakit untuk mencegah terjadinya kasus malnutrisi karena kurangnya asupan gizi selama dirawat, sementara kebutuhan meningkat (Sudibyo,1999). Perlu diketahui bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi asupan makanan pada setiap individu dalam hal ini pasien di antaranya dipengaruhi oleh Jenis makanan, variasi makanan, cita rasa makanan, dan waktu pemberian makanan pasien di Rumah Sakit.

B. Tinjauan Umum Tentang Jenis Makanan

Jenis makanan dalam hal ini adalah makanan-makanan yang berhubungan dengan kebutuhan gizi. Fungsi jenis makanan sebagai berikut:

a) Jenis makanan yang memenuhi selera pasien

Selera seseorang atau sekelompok masyarakat begitupula dengan pasien berbeda yang satu dengan yang lainnya. Jenis makanan oleh seorang pasien sangat disukai belum tentu akan disukai pula oleh pasien yang Iainnya. Penglihatan dan penciuman merupakan dua modalitas indra yang dapat menerima rangsangan dari jarak jauh. Dengan mencium bau harum makanan kemudian melihat warna-warni makanan yang menarik, seorang pasien akan tertarik perhatiannya dan tergugah seleranya untuk makan. Sebaliknya jika penyajian tidak menarik atau bau tidak disukai maka selera makan akan terhambat, dan keinginan untuk mengkonsumsi makanan tersebut akan menurun bahkan dapat hilang sama sekali. Ini akan menyebabkan pemenuhan akan kebutuhan zat gizi pasien tidak maksimal sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari proses penyembuhannya.

b) Jenis makanan yang memberi rasa kenyang

Rasa kenyang setelah makan sangat diperlukan dalam memberikan rasa puas kepada pasien. Susunan hidangan yang cukup bergizi tetapi cepat memberikan rasa lapar kembali, tidak akan memberikan kepuasan kepada konsumen. Sebaliknya hidangan yang memberikan rasa kenyang tetapi kurang bergizi akan merugikan kesehatan.

c) Jenis makanan yang mengandung zat-zat gizi

Jenis dan kuantum zat-zat gizi harus disediakan dengan cukup oleh makanan. Dalam makanan itu harus mengandung beberapa kelompok ;(a) kelompok bahan makanan pokok, (b) kelompok lauk pauk, (c) kelompok sayur, dan (d) kelompok buah untuk cuci mulut.

Dengan adanya Jenis-jenis makanan tersebut sangat diharapkan agar pemenuhan gizi pasien dalam perawatannya dapat terpenuhi. Ini tidak lepas dari peran serta perawat gizi yang dalam disiplin ilmunya dituntut untuk dapat membuat pasien bisa menikmati segala jenis makanan yang diberikan dari pihak Rumah Sakit.

C. Tinjaun Umum Tentang Variasi Pemberian Makanan

Variasi pemberian makanan yang dimaksud adalah jenis aneka makanan yang disajikan pada setiap jadwal pemberian makanan di Rumah Sakit. Pada pasien yang sedang manjalani perawatan, makanan yang diberikan kepadanya telah disesuaikan dengan daftar menu yang telah disusun sebelumnya. Menu seimbang yang telah disusun terdiri dari beraneka ragam makanan dalam jumlah dan proporsi yang sesuai dengan kebutuhan pasien dan jenis penyakitnya sehingga bisa tetap memenuhi kebutuhan gizi bagi pasien guna proses penyembuhan, pemeliharaan dan perbaikan sel tubuh.

Kehadiran atau ketidakhadiran suatu zat gizi esensial dapat mempengaruhi ketersediaan, absorpsi, metabolisme, atau kebutuhan zat gizi lain. Adanya saling keterkaitan antar zat-zat gizi ini menekankan keanekaragaman makanan dalam menu sehari-hari. Jenis makanan yang diperuntukkan kepada pasien tetap berpatokan pada pola menu 4 sehat 5 sempurna. Pola yang telah diperkenalkan oleh Bapak Ilmu Gizi Prof. DR. dr Poerwo Soedarmo melalui Lembaga Makanan Rakyat Depkes ini bila disusun dengan baik maka akan mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, dalam hal ini adalah pasien.

Makanan yang diperuntukkan kepada pasien terdiri atas makanan sebagai berikut :

a. Makanan pokok untuk memberi rasa kenyang, dalam hal ini adalah nasi. Makanan pokok berperan sebagai sumber utama energi dan itu berasal dari karbohidrat.

b. Lauk untuk memberi nikmat sehingga makanan pokok yang pada

umumnya mempunyai rasa netral, lebih terasa enak :

a) Lauk hewani; daging, ayam, ikan dan kerang, telur dan sebagainya.

b) Lauk nabati; kacang-kacangan dan hasil olah, seperti kacang kedelai, kacang hijau, kacang merah, tabu, tempe dan oncom.

Lauk adalah makanan yang merupakan sumber dari protein. Lauk sebaiknya terdiri atas campuran lauk hewani dan nabati. Lauk hewani seperti daging, ayam, ikan, udang dan telur mengandung 'protein dengan nilai biologi lebih tinggi daripada laut nabati. Daging merah, hati, limpa, kuning telur dan ginjal merupakan sumber zat besi yang mudah diabsorpsi. Ikan terutama bila dimakan dengan tulangnya (ikan teri), disamping itu merupakan sumber kalsium. Ikan dan telur lebih murah daripada daging dan ayam. Secara keseluruhan lauk hewani merupakan sumber protein, fosfor, tiamin, tiasin, vitamin B6 dan vitamin B12, zat besi, seng, magnesium dan silenium.

c. Sayur untuk memberi rasa segar dan melancarkan proses menelan makanan karena biasanya dihidangkan dalam bentuk berkuah; sayur daun-daunan, umbi-umbian, kacang-kacangan, dan sebagainya. Sayur merupakan sumber mineral dan vitamin. Sayur juga merupakan sumber vitamin A, vitamin C, asam folat, magnesium, kalium dan serat, serta tidak mengandung lemak dan kolesterol. Sayuran daun berwarna hijau, dan sayuran berwarna jingga/orange seperti wortel dan tomat mengandung lebih banyak provitamin A berupa beta-karoten daripada sayuran tidak berwarna. Sayuran berwana hijau di samping itu kaya akan kalsium, zat besi, asam folat dan vitamin C. Contoh sayuran berwarna hijau adalah bayam, kangkung, daun singkong, daun kacang, daun katuk, dan daun pepaya.

Semakin hijau daun sayur, semakin kaya akan zat-zat gizi. Sayur kacang-kacangan seperti buncis dan kacang panjang kaya akan vitamin B. Kacang-kacangan dalam bentuk kering atau hasil olahannya walaupun mengandung protein dengan nilai biologi sedikit lebih rendah daripada lauk hewani karena mengandung lebih sedikit asam amino esensial metionin, merupakan sumber protein yang baik. Kekurangan metionin dapat diisi oleh bahan makanan lain yang kaya akan metionin, seperti beras dan serealia lain.

d. Buah untuk "mencuci mulut" dalam artian kata sebagai makanan penutup setelah mengkonsumsi makanan utama. Buah juga merupakan sumber mineral dan vitamin. Buah berwarna kuning seperti mangga, pepaya dan pisang raja kaya akan provitamin A, sedangkan buah yang kecut seperti jeruk, gandaria, jambu biji dan rambutan kaya akan vitamin C. Secara keseluruhan buah merupakan sumber dari vitamin A, Vitamin C, kalium dan serat. Buah tidak mengandung natrium, lemak (kecuali alpokat), dan kolesterol. Porsi buah yang dianjurkan sehari untuk orang dewasa adalah sebanyk 200-300 gram atau 2-3 potong sehari berupa pepaya atau buah yang lain.

Karena susu mengandung protein bernilai biologi tinggi dan zat esensial lain dalam bentuk yang mudah dicerna dan diserap, maka susu terutama dianjurkan pula sebagai unsur kelima yang dibutuhkan oleh tubuh. Jika dikaitkan dengan asupan makanan pasien yang sedang dalam perawatan maka diharapkan dengan adanya makanan yang bervariasi ini maka pasien dapat menyukai dan menikmati segala jenis makanan yang diberikan pihak Rumah sakit, meningkatkan nafsu makan dan menambah selera makan sehingga kebutuhan pasien akan zat-zat gizi dapat terpenuhi, bisa mempercepat proses penyembuhan, dan mengurangi biaya perawatan.

D. Tinjauan Umum Tentang Cita Rasa Makanan

Cita rasa suatu makanan dapat diketahui dari bau dan rasa makanan itu sendiri. Bau dan rasa makanan sangat menentukan selera makan seseorang dalam hal ini pasien. Di sebuah Rumah sakit, selera makan seorang pasien sangat mempengaruhi proses penyembuhannya, dimana tubuh pasien pada saat itu membutuhkan nutrisi. Rasa sakit, stress dan cemas merupakan beberapa faktor yang dapat menghilangkan selera makan pasien. Dengan menghadirkan cita rasa makanan maka akan mempercepat proses penyembuhan pasien.

Di masyarakat khususnya dalam sebuah keluarga, cara pengolahan makanan di dalam dapur keluarga berpengaruh juga pada dan selera anggota keluarga. Sebelum dikonsumsi sebagian bahan makanan diolah dahulu di dapur dan disajikan dengan rapi sehingga akan menjadikan hidangan yang bercita rasa lezat. Hal ini akan menimbulkan nafsu makan dan menghadapi hidangan merupakan sesuatu yang menyenangkan. Cita rasa suatu makanan yang dapat diketahui dari rupa, warna, bau, dan rasa, cita rasa juga dapat mempengaruhi selera makan seseorang. Selain untuk memberikan rasa kenyang, manusia juga makan untuk mendapatkan kenikmatan. Kesukaan akan makanan berbeda dari satu bangsa ke bangsa lain, dan dari daerah/suku yang satu ke daerah/suku yang lain. Cita rasa makanan di negara tropis berbeda dengan di negara dengan empat musim. Makanan di negara tropis biasanya lebih berbumbu. Ini kemungkinan karena secara naluri penduduk di negara tropis sejak dahulu kala telah tahu bahwa pemberian bumbu yang banyak pada makanan dapat menghambat pembusukan.

Di Eropa, semakin ke selatan makanan penduduk semakin berbumbu (bandingkan antara cita rasa makanan bangsa Inggris yang umumnya hambar dengan makanan Itali yang lebih berbumbu). Di Indonesia, cita rasa makanan antar daerah/suku juga banyak berbeda. Sudah terkenal bahwa makanan di Sumatera khususnya di daerah Sumatera barat lebih pedas daripada makanan di Jawa, khususnya di Jawa Tengah yang suka makanan manis. Jadi secara umum makanan yang disukai adalah makanan yang memenuhi selera atau cita rasa, yaitu dalam hal rupa, warna, bau, rasa, suhu, dan tekstur (Sunita Almatsier).

Setelah bahan makanan melalui proses pemasakan maka makanan tersebut dibagikan kepada konsumen sesuai dengan waktu yang ditetapkan, penyaluran yang digunakan sangat mempengaruhi ketepatan waktu pemberian makanan kepada pasien yang sangat tergantung pada jumlah dan tenaga, peralatan dan perlengkapan yang ada. Pemberian makanan pada pasien di rumah sakit ditagani oleh tenaga yang berlatar belakang Ahli Gizi yang memiliki tingkat pendidikan menimal D3 Gizi sehingga baik nilai, gizi, porsi, variasi, cita rasa, dan waktu pemberian telah diperhitungkan sedemikian rupa yang disesuaikan dengan keadaan setiap pasien (fisik dan jenis penyakit yang diderita oleh pasien) sehingga makanan yang disajikan dalam sehari yang terdistribusi dalam tiga waktu pemberian yaitu pagi, siang, dan sore atau malam harus dikonsumsi habis oleh pasien. Sebagai upaya mempercepat proses penyembuhan sehingga lama rawat inap lebih cepat dan biaya perawatan lebih efesien.

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran Variabel yang diteliti

Selama pasien menjalani perawatan dirumah sakit seyogyanya memperoleh zat-zat gizi baik secara kuantitas maupun kualitas sesuai dengan kebutuhan pasien sebagaimana upaya untuk mempercepat proses penyembuhan sehingga lama perawatan relative cepat dan biaya lebih efesien, sedangkan zat-zat gizi secara kualitas dan kuantitas sesuai dengan kebutuhan pasien diperoleh melalui mengkonsumsi semua makanan yang disajikan dalam sehari oleh Rumah Sakit yang terdistribusi pada tiga waktu pemberian yaitu pagi, siang, dan sore/malam.

Pasien dapat mengkonsumsi semua jenis makanan yang disajikan dalam sehari yang terdistribusi pada tiga waktu pemberian yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk diantaranya adalah pengetahuan dan kesadaran pasien, cita rasa makanan, bentuk, penyajian waktu penyajian, variasi pemberian makanan bahkan jenis makanan turut mempengaruhi habis tidaknya makanan, dikonsumsi oleh pasien, karena kebiasaan sehari-hari mengkonsumsi jenis makanan sangat kuat mempengaruhi selera makan setiap individu pasien sementara dalam keadaan sakit.

B. Pola Pikir Variabel yang Diteliti


Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

Gambar 1. Faktor Yang Berhubungan Dengan Asupan Makanan

C. Defenisi Oprasional Dan Kriteria Objektif

1. Asupan Makanan

Defenisi Operasional :

Asupan makanan adalah banyaknya makanan yang dikonsumsi (dihabiskan) oleh pasien setiap kali penyajian sesuai jadwal pemberian makanan berdasarkan standar penuntun diet Rumah Sakit.

Kriteria Objektif :

Cukup : Apabila pasien mengkonsumsi habis semua jenis makanan yang disajikan pada tiga waktu pemberian dalam sehari yang terdiri dari (pagi, siang, sore/malam).

Kurang : Apabila pasien kurang mengkonsumsi habis makanan yang disajikan pada tiga waktu pemberian dalam sehari yang terdiri dari (pagi, siang, sore/malam).

2. Jenis Makanan

Defenisi Operasional :

Jenis makanan adalah macam makanan yang disajikan oleh Rumah Sakit (Dietesien) pada tiga waktu pemberian (Pagi, siang dan malam) terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah serta habis dikonsumsi oleh pasien.

Kriteria Objektif :

Sesuai : Apabila jenis makanan yang disajikan sesuai dengan kebiasaan makan pasien dirumah.

Tidak Sesuai : Apabila jenis makanan yang disajikan tidak sesuai dengan kebiasaan makan pasien dirumah.

3. Variasi Pemberian Makanan

Defenisi Oprasional :

Variasi pemberian makanan adalah aneka ragam jenis makanan yang disajikan kepada pasien pada tiga waktu pemberian.

Kriteria Objektif :

Sesuai : Apabila variasi makanan yang disajikan sesuai dengan keinginan pasien.

Tidak Sesuai : Apabila variasi makanan yang disajikan tidak sesuai dengan keinginan pasien

4. Cita Rasa Makanan

Defenisi Oprasional :

Cita rasa makanan adalah makanan yang dapat meningkatkan selera makan yang disajikan pada tiga waktu pemberian.

Kriteria Objektif :

Sesuai : Apabila makanan yang disajikan sesuai dengan selera pasien.

Tidak Sesuai : Apabila makanan yang disajikan tidak sesuai dengan selera pasien.

D. Hipotesis Penelitian

1. Jenis makanan berhubungan dengan asupan makanan.

2. Variasi pemberian makanan berhubungan dengan asupan makanan.

3. Cita rasa makanan berhubungan dengan asupan makanan.

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Observasional dengan pendekatan Cross Sectional Studi dengan tujuan untuk mengetahui hubungan variabel independent dan variabel dependent yang diamati dalam periode waktu yang sama.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukankan di bagian Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa dan dilaksanakan pada bulan Januari – Februari tahun 2010 .

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah seluruh pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa pada waktu dilakukan penelitian yang diambil secara purphosive sampling dengan kriteria :

a. Pasien rawat inap yang mengkonsumsi makanan biasa (tidak memerlukan diet khusus).

b. Pasien dewasa, sadar, dan dapat berkomunikasi dan bersedia menjadi sampel.

c. Pasien yang dinyatakan oleh dokter sudah boleh pulang.

D. Cara Pengumpulan Data

1. Data Sekunder

Data yang diperoleh di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

2. Data Primer

Data yang diperoleh dengan wawancara langsung kepada pasien rawat inap dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah disusun. Untuk asupan makanan dilakukan pengamatan langsung terhadap banyaknya setiap jenis makanan yang dikonsumsi oleh pasien pada setiap waktu pemberian makanan.

E.Pengolahan dan Penyajian Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer program SPSS dan penyajian data dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai dengan penjelasan.

F.Analisis Data

Analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah uji Chi-Square.

Tabel 1

Analisa Statistik

Variabel Independen

Kategori I

Kategori 2

Jumlah

Kategori 1

a

b

a+b

Kategori 2

c

d

c+d

Total

a +c

b+d

a+b+c+d

Keterangan :

a : Banyaknya kasus yang benar benar menderita penyakit dengan hasil tes yang positif

b : Banyak kasus yang sebenarnya tidak sakit tetapi menunjukkan hasil yang positif

c : Banyak kasus yang sebenarnya menderita penyakit tetapi hasil tes adalah negative

d : Banyak kasus yang tidak sakit dengan hasil tes yang negative

Rumus Statistik :

X2 = ∑ (O – E )²

E

Keterangan :

X2 : Chi-Square perhitungan

O : Frekuensi observasi

E : Frekuensi harapan

Interpretasi :

Ada hubungan jika X2 hitung lebih besar dari X2 tabel ( 3,841 ) atau nilai P <>

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa selama 30 hari mulai tanggal 18 Januari sampai 18 Februari 2010 dengan mengambil sampel sebanyak 104 pasien rawat inap. Data diolah dan dianalisis disesuaikan dengan tujuan penelitian.

Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel yang dilengkapi dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Analisis Univariat

a. Jenis Kelamin

Tabel 2. Distribusi Jenis Kelamin Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa

Tahun 2010

Jenis Kelamin

n

%

Laki – Laki

Perempuan

47

57

45,2

54,8

Jumlah

104

100,0

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 2 menunjukkan bahwa pasien rawat inap yang memiliki jenis kelamin laki – laki sebanyak 45,2%, dan perempuan sebanyak 54,8%.

b. Kelompok Umur

Tabel 3. Distribusi kelompok Umur Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa

Tahun 2010

Kelompok Umur

(Tahun)

n

%

≤ 19

20 – 27

28 – 35

36 – 43

44 – 51

52 – 59

≥ 60

8

59

28

1

1

3

4

7,7

56,7

26,9

1,0

1,0

2,9

3,8

Jumlah

104

100,0

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 3 menunjukkan bahwa pasien rawat inap tertinggi pada kelompok umur 20 – 27 tahun sebanyak 56,7 %, dan terendah kelompok umur 36 – 43 dan 44 – 51 tahun masing – masing sebanyak 1,0 %.

c. Tingkat Pendidikan

Tabel 4. Distribusi Tingkat Pendidikan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa

Tahun 2010

Tingkat Pendidikan

n

%

SD

SMP

SMA

D3

S1

29

32

25

9

9

27,9

30,8

24,0

8,7

8,7

Jumlah

104

100,0

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 4 menunjukkan bahwa pasien rawat inap tertinggi tingkat pendidikan SMP sebanyak 30,8 %, dan terendah masing – masing pada tingkat pendidikan D3 sebanyak 8,7% dan PT sebanyak 8,7 %.

d. Jenis Pekerjaan

Tabel 5. Distribusi Jenis Pekerjaan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa

Tahun 2010

Jenis Pekerjaan

n

%

PNS

Tani

Tidak Bekerja

41

14

49

39,4

13,5

47,1

Jumlah

104

100,0

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 5 menunjukkan bahwa pasien rawat inap tertinggi tidak memiliki pekerjaan sebanyak 47,1% dan terendah jenis pekerjaan petani sebanyak 13,5 %.

e. Jenis Makanan

Tabel 6. Distribusi Jenis Makanan Yang Disajikan Pada Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf

Kabupaten Gowa Tahun 2010

Jenis Makanan

n

%

Sesuai

Tidak Sesuai

86

18

82,7

17,3

Jumlah

104

100,0

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 6 menunjukkan bahwa pasien rawat inap yang mengatakan jenis makanan sesuai sebanyak 82,7%, dan tidak sesuai sebanyak 17,3%.

f. Variasi Pemberian Makanan

Tabel 7. Distribusi Variasi Pemberian Makanan Yang Disajikan Pada Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah

Syekh Yusuf Kabupaten Gowa

Tahun 2010

Variasi Menu

n

%

Sesuai

Tidak Sesuai

73

31

70,2

29,8

Jumlah

104

100,0

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 7 menunjukkan bahwa pasien rawat inap yang menyatakan variasi pemberian makanan sesuai sebanyak 70,2%, dan tidak sesuai sebanyak 29,8%.

g. Cita Rasa Makanan

Tabel 8. Distribusi Cita Rasa Makanan Yang Disajikan Pada Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf

Kabupaten Gowa Tahun 2010

Cita Rasa Makanan

n

%

Sesuai

Tidak sesuai

74

30

71,2

28,8

Jumlah

104

100,0

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 8 menunjukkan bahwa pasien rawat inap yang menyatakan cita rasa makanan sesuai sebanyak 71,2%, dan tidak sesuai sebanyak 28,8%.

h. Asupan Makanan

Tabel 10. Distribusi Asupan Makanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa

Tahun 2010

Asupan Makanan

n

%

Cukup

Kurang

85

19

81,7

18,3

Jumlah

104

100,0

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 10 menunjukkan bahwa pasien rawat inap yang menyatakan asupan makanan cukup sebanyak 81,7% dan asupan kurang sebanyak 18,3%.

2. Analisis Bivariat

a. Hubungan Jenis Makanan dengan Asupan Makanan

Tabel 11. Hubungan Jenis Makanan dengan Asupan Makanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf

Kabupaten Gowa Tahun 2010

Jenis Makanan

Asupan Makanan

Jumlah

C²

( p )

Asupan Cukup

Asupan Kurang

n

%

n

%

Sesuai

Tidak sesuai

74

11

86,0

61,1

12

7

14,0

38,9

86

18

6,198

(0,013)

Jumlah

85

81,7

19

18,3

104

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 11 menunjukkan bahwa dari 86 pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf yang menyatakan sesuai terhadap jenis makanan terdapat asupan makanan cukup sebanyak 86,0%. Sedangkan dari 18 pasien yang menyatakan tidak sesuai terhadap jenis makanan terdapat asupan makanan kurang sebanyak 61,1%.

Hasil analisis statistik diperoleh nilai C² hitung (6,198) > C² tabel (3,841) dan nilai p (0,013) < style=""> jenis makanan berhubungan dengan asupan makanan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

b. Hubungan Variasi Pemberian Makanan Dengan Asupan Makanan

Tabel 12. Hubungan Variasi Pemberian Makanan dengan Asupan Makanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah

Syekh Yusuf Kabupaten Gowa

Tahun 2010

Variasi Pemberian

Asupan Makanan

Jumlah

C²

( p )

Asupan Cukup

Asupan Kurang

n

%

n

%

Sesuai

Tidak sesuai

68

17

93,2

54,8

5

14

6,8

45,2

73

31

21,390

(0,000)

Jumlah

85

81,7

19

18,3

104

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 12 menunjukkan bahwa dari 73 pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf yang menyatakan sesuai terhadap variasi pemberian makanan terdapat asupan makanan cukup sebanyak 93,2%. Sedangkan dari 31 pasien yang menyatakan tidak sesuai terhadap variasi pemberian makanan terdapat asupan makanan kurang sebanyak 54,8%.

Hasil analisis statistik diperoleh nilai C² hitung (21,390) > C² tabel (3,841) dan nilai p (0,000) < style=""> variasi Pemberian makanan berhubungan dengan asupan makanan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

c. Hubungan Cita Rasa Makanan Dengan Asupan Makanan

Tabel 13. Hubungan Cita Rasa Makanan dengan Asupan Makanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa Tahun 2010

Cita Rasa Makanan

Asupan Makanan

Jumlah

C²

( p )

Asupan Cukup

Asupan Kurang

n

%

n

%

Sesuai

Tidak sesuai

68

17

91,9

56,7

6

13

8,1

43,3

74

30

17,739

(0,000)

Jumlah

85

81,7

19

18,3

104

Sumber : Data Primer, 2010

Tabel 13 menunjukkan bahwa dari 74 pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf yang menyatakan sesuai terhadap cita rasa makanan terdapat asupan makanan cukup sebanyak 91,9%. Sedangkan dari 30 pasien yang menyatakan tidak sesuai terhadap cita rasa makanan terdapat yang memiliki asupan makanan kurang sebanyak 56,7%.

Hasil analisis statistik diperoleh nilai C² hitung (17,739) > C² tabel (3,841) dan nilai p (0,000) < style=""> cita rasa makanan berhubungan dengan asupan makanan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

B. Pembahasan

1. Hubungan Jenis Makanan Dengan Asupan Makanan

Selera seseorang atau sekelompok masyarakat begitupula dengan pasien berbeda yang satu dengan yang lainnya. Jenis makanan oleh seorang pasien sangat disukai belum tentu akan disukai pula oleh pasien yang Iainnya. Penglihatan dan penciuman merupakan dua modalitas indra yang dapat menerima rangsangan dari jarak jauh. Dengan mencium bau harum makanan kemudian melihat warna-warni makanan yang menarik, seorang pasien akan tertarik perhatiannya dan tergugah seleranya untuk makan. Sebaliknya jika penyajian tidak menarik atau bau tidak disukai maka selera makan akan terhambat, dan keinginan untuk mengkonsumsi makanan tersebut akan menurun bahkan dapat hilang sama sekali. Ini akan menyebabkan pemenuhan akan kebutuhan zat gizi pasien tidak maksimal sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari proses penyembuhannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis makanan berhubungan dengan asupan makanan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

Hal ini sebabkan karena makanan yang dikonsumsi oleh pasien rawat inap beraneka ragam sesuai dengan selera pasien seperti nasi, ikan, sayur dan buah serta diselingi dengan makanan selingan seperti bubur kacang ijo dan kue, susu dan teh.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Faisal anas (2008) di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar menyatakan bahwa ada hubungan jenis makanan dengan asupan makanan pada pasien rawat inap.

2. Hubungan Variasi Pemberian Makanan Dengan Asupan Makanan

Variasi makanan yang dimaksud adalah jenis aneka makanan yang disajikan pada setiap jadwal pemberian makanan di Rumah Sakit. Pada pasien yang sedang manjalani perawatan, makanan yang diberikan kepadanya telah disesuaikan dengan daftar menu yang telah disusun sebelumnya. Menu seimbang yang telah disusun terdiri dari beraneka ragam makanan dalam jumlah dan proporsi yang sesuai dengan kebutuhan pasien dan jenis penyakitnya sehingga bisa tetap memenuhi kebutuhan gizi bagi pasien guna proses penyembuhan, pemeliharaan dan perbaikan sel tubuh. Kehadiran atau ketidakhadiran suatu zat gizi esensial dapat mempengaruhi ketersediaan, absorpsi, metabolisme, atau kebutuhan zat gizi lain. Adanya saling keterkaitan antar zat-zat gizi ini menekankan keanekaragaman makanan dalam menu sehari-hari. Jenis makanan yang diperuntukkan kepada pasien tetap berpatokan pada pola menu 4 sehat 5 sempurna. Pola yang telah diperkenalkan oleh Bapak Ilmu Gizi Prof. DR. dr Poerwo Soedarmo melalui Lembaga Makanan Rakyat Depkes ini bila disusun dengan baik maka akan mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi pemberian makanan berhubungan dengan asupan makanan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasmawati tahun 2009 di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangeng Kabupaten Maros menyatakan bahwa ada hubungan variasi pemberian makanan dengan asupan makanan pada pasien rawat inap.

Hal ini disebabkan karena makanan yang diberikan kepada pasien rawat inap disesuaikan dengan siklus menĂș telah disusun oleh petugas Instalasi gizi.

3. Hubungan Cita Rasa Makanan Dengan Asupan Makanan

Di masyarakat khususnya dalam sebuah keluarga, cara pengolahan makanan di dalam dapur keluarga berpengaruh juga pada dan selera anggota keluarga. Sebelum dikonsumsi sebagian bahan makanan diolah dahulu di dapur dan disajikan dengan rapi sehingga akan menjadikan hidangan yang bercita rasa lezat. Hal ini akan menimbulkan nafsu makan dan menghadapi hidangan merupakan sesuatu yang menyenangkan. Cita rasa suatu makanan yang dapat diketahui dari rupa, warna, bau, dan rasa, cita rasa juga dapat mempengaruhi selera makan seseorang. Selain untuk memberikan rasa kenyang, manusia juga makan untuk mendapatkan kenikmatan. Kesukaan akan makanan berbeda dari satu bangsa ke bangsa lain, dan dari daerah/suku yang satu ke daerah/suku yang lain. Cita rasa makanan di negara tropis berbeda dengan di negara dengan empat musim. Makanan di negara tropis biasanya lebih berbumbu. Ini kemungkinan karena secara naluri penduduk di negara tropis sejak dahulu kala telah tahu bahwa pemberian bumbu yang banyak pada makanan dapat menghambat pembusukan. Di Eropa, semakin ke selatan makanan penduduk semakin berbumbu (bandingkan antara cita rasa makanan bangsa Inggris yang umumnya hambar dengan makanan Itali yang lebih berbumbu).

Di Indonesia, cita rasa makanan antar daerah/suku juga banyak berbeda. Sudah terkenal bahwa makanan di Sumatera khususnya di daerah Sumatera barat lebih pedas daripada makanan di Jawa, khususnya di Jawa Tengah yang suka makanan manis. Jadi secara umum makanan yang disukai adalah makanan yang memenuhi selera atau cita rasa, yaitu dalam hal rupa, warna, bau, rasa, suhu, dan tekstur (Sunita Almatsier).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa cita rasa makanan berhubungan dengan asupan makanan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

Hal ini disebabkan karena Cita rasa suatu makanan dapat diketahui dari bau dan rasa makanan itu sendiri. Bau dan rasa makanan sangat menentukan selera makan seseorang dalam hal ini pasien. Di sebuah Rumah sakit, selera makan seorang pasien sangat mempengaruhi proses penyembuhannya, dimana tubuh pasien pada saat itu membutuhkan nutrisi. Rasa sakit, stress dan cemas merupakan beberapa faktor yang dapat menghilangkan selera makan pasien. Dengan menghadirkan cita rasa makanan maka akan mempercepat proses penyembuhan pasien.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasmawati tahun 2009 di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangeng Kabupaten Maros menyatakan bahwa ada hubungan cita rasa makanan dengan asupan makanan pada pasien rawat inap.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Jenis makanan berhubungan dengan asupan makanan pada pasien rawat inap.

2. Variasi pemberian makanan berhubungan dengan asupan makanan pada pasien rawat inap.

3. Cita rasa makanan berhubungan dengan asupan makanan pada pasien rawat inap.

B. Saran

1. Diharapkan pada pasien untuk membiasakan diri mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang mengandung gizi seimbang sesuai dengan kebutuhannya.

2. Disarankan kepada staf Instalasi Gizi agar dapat melakukan penyuluhan dihari pertama kepada pasien agar makanannya dihabiskan untuk mempercepat proses penyembuhan dan memperpendek hari rawat.

3. Cita rasa makanan yang bervariasi diharapkan dapat menambah selera makan pasien sehingga pemenuhan kebutuhan zat gizi sebagai bagian dari proses penyembuhan dapat terpenuhi.

4. Sebelum menyusun menu diawali dengan konsultasi dengan pasien terlebih dahulu.

5. Disarankan kepada peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian ini dengan mengamati variabel lain yang berhubungan dengan judul.